Apa yang Membuat Ulama Ini Begitu Diperhitungkan Secara Nasional?
Nama KH Ahmad Muhtadi Dimyathi, atau yang lebih dikenal sebagai Abuya Muhtadi, bukanlah sosok asing di dunia keislaman Indonesia. Ia adalah seorang ulama kharismatik asal Banten, putra dari ulama besar KH Dimyathi Al-Bantani, yang mewarisi ilmu keislaman mendalam dan pengaruh luas di kalangan santri dan umat Islam tradisional.
Yang membuat Abuya begitu istimewa bukan hanya keilmuannya, tapi juga kedekatannya dengan Presiden Joko Widodo, serta peran aktifnya dalam berbagai kegiatan keagamaan dan kenegaraan. Dalam banyak momen penting, Presiden Jokowi terlihat meminta restu atau mendatangi kediaman Abuya—sebuah isyarat penting tentang pengaruh dan kepercayaan yang dimiliki ulama ini di level nasional.
Siapa Abuya Muhtadi Dimyathi dan Mengapa Namanya Terus Disebut?
Abuya Muhtadi lahir di Cidahu, Pandeglang, Banten. Ia adalah pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Ulum, dan dikenal sebagai ulama ahli fikih yang konsisten mengajarkan kitab-kitab klasik (kitab kuning) dengan pendekatan Ahlussunnah wal Jamaah.
Sebagai putra dari KH Dimyathi al-Bantani, Abuya dikenal sebagai sosok yang menjaga warisan keilmuan ayahnya dan melanjutkan tradisi keislaman pesantren salaf yang kuat, namun tetap inklusif terhadap perkembangan zaman.
Dalam keseharian, Abuya dikenal sangat sederhana, santun, dan jarang tampil di media, namun pengaruhnya sangat besar terutama di wilayah Banten dan sekitarnya. Banyak pejabat, tokoh nasional, hingga Presiden sekalipun datang sowan (berkunjung) untuk sekadar minta doa dan nasihat.
Kapan Abuya Mulai Dikenal Sebagai Ulama Nasional?
Ketenaran Abuya di kalangan nasional mulai menguat pada periode pertama pemerintahan Presiden Jokowi, ketika Presiden beberapa kali menyambangi kediamannya di Pandeglang. Namun jauh sebelum itu, Abuya telah lama dikenal sebagai referensi keilmuan dan spiritual oleh para santri, kiai, bahkan politisi dari berbagai partai.
Setiap kali ada peristiwa penting nasional—baik pemilu, musibah, atau pertemuan ulama dan negara—nama Abuya sering disebut sebagai sosok yang disegani dan dimintai pandangan. Dalam berbagai momen, ia tampil tidak untuk mencari popularitas, melainkan memberi keteladanan keulamaan yang menyejukkan dan menuntun umat.
Di Mana Abuya Muhtadi Aktif Menyebarkan Ilmunya?
Abuya bermukim di Pondok Pesantren Roudlotul Ulum, Cidahu, Pandeglang, yang menjadi pusat pengajaran kitab kuning dan halaqah keislaman. Ribuan santri dari berbagai daerah menimba ilmu darinya, baik secara langsung maupun melalui jaringan alumni yang tersebar di berbagai pondok pesantren di Indonesia.
Tak hanya di pesantren, Abuya juga sering diundang dalam majelis-majelis ulama, pertemuan antar-kiai, dan acara kenegaraan. Meskipun jarang tampil di media sosial, ceramah dan petuahnya banyak diabadikan dan dibagikan oleh para santri dan jemaah di berbagai platform digital.
Mengapa Abuya Menjadi Sosok yang Dekat dengan Presiden?
Kedekatan Abuya dengan Presiden bukan semata hubungan politis, tetapi berangkat dari penghormatan Presiden terhadap tokoh-tokoh agama yang memiliki integritas tinggi. Jokowi kerap menjadikan Abuya sebagai rujukan moral dan spiritual dalam mengambil keputusan penting bagi bangsa.
Abuya juga dikenal tidak partisan. Ia menerima semua kalangan tanpa memandang latar belakang partai, ormas, atau status sosial. Dalam banyak pernyataannya, Abuya selalu menekankan pentingnya persatuan umat, kedamaian bangsa, dan pentingnya menjaga tradisi keislaman yang moderat dan santun.
Kehadiran tokoh seperti Abuya sangat penting di era ketika agama kerap dijadikan alat politik dan polarisasi. Abuya tampil sebagai simbol ulama yang menyejukkan, menjaga keseimbangan antara agama dan negara, serta menjadi jembatan antara pemerintah dan umat.
Bagaimana Abuya Memberi Dampak Nyata bagi Umat dan Bangsa?
1. Melalui Pendidikan Pesantren
Abuya mengasuh ribuan santri di pondoknya, mengajarkan kitab kuning seperti Fathul Mu’in, Syarh Al-Hikam, dan Tafsir Jalalain. Ia menekankan akhlak, adab, dan keikhlasan dalam beragama.
2. Menjadi Rujukan Ulama dan Pemerintah
Abuya sering dijadikan marja’ (rujukan) oleh para ulama muda dan kiai lain dalam menyelesaikan persoalan fiqih dan sosial keagamaan. Pemerintah pun mengundangnya dalam diskusi strategis seputar umat dan negara.
3. Menjaga Kondusifitas Politik Keagamaan
Saat situasi nasional memanas, Abuya kerap menyerukan narasi damai, cinta tanah air, dan pentingnya menjaga ukhuwah (persaudaraan).
4. Mewakili Wajah Islam Tradisional yang Damai
Abuya adalah contoh konkret ulama NU yang menjaga Islam wasathiyah (moderat). Ia menolak kekerasan atas nama agama, dan menjaga agar ajaran Islam tidak disalahgunakan oleh kelompok ekstrem.
Abuya Muhtadi, Penjaga Warisan Ulama yang Dihormati Presiden
Di tengah gejolak zaman dan tantangan umat yang semakin kompleks, kehadiran KH Ahmad Muhtadi Dimyathi sebagai ulama kharismatik menjadi penyejuk. Ia tidak mencari panggung, tetapi panggung yang datang kepadanya karena keilmuan, ketawadhuan, dan keikhlasannya dalam membimbing umat.
Kedekatannya dengan Presiden Jokowi bukan sekadar simbol hubungan elite dan ulama, tetapi bukti bahwa negara masih menjunjung tinggi nasihat spiritual dari para kiai sepuh yang lurus.
Abuya adalah penjaga nilai-nilai Islam tradisional yang ramah, nasionalis, dan penuh kasih—sebuah teladan langka di era digital yang serba gaduh.