Cringe marketing adalah teknik pemasaran yang menyajikan konten secara berlebihan, norak, atau memalukan secara sengaja, untuk:
-
Memancing reaksi emosional (tertawa, heran, gemas, atau bahkan risih)
-
Mendapat perhatian luas
-
Viral di media sosial
Biasanya digunakan oleh brand atau individu yang berani tampil beda, bahkan rela “dipermalukan” demi membuat konten mereka nempel di kepala orang.
✅ “Malu-Maluin, Tapi Nendang” Artinya Apa?
-
Malu-maluin: Kontennya sering dianggap alay, lebay, norak, atau bikin orang ‘cringe’ (risih) saat melihatnya.
-
Tapi nendang: Meski bikin orang risih, pesan brand-nya justru ngena, diingat, dan sering viral.
Dengan kata lain: meskipun orang menertawakan atau mengkritik, nama brand tetap disebut-sebut dan dikenal. Itulah tujuannya.
✅ Contoh Cringe Marketing
-
Iklan Jadul Sari Roti versi TikTok
Dibuat dengan akting dan efek suara yang “janggal”, tapi jadi lucu dan viral. -
Konten TikTok ala warung makan kecil
Pegawai joget norak, baju nyentrik, caption typo — tapi orang jadi ingat dan datang karena viralnya. -
Brand lokal pakai akronim aneh atau slogan absurd
Misalnya: “Makan Ini Dijamin Kamu Jatuh Cinta — Kalau Enggak, Salah Kamu!” → absurd tapi bikin penasaran.
✅ Mengapa Strategi Ini Dipakai?
-
Cocok untuk Gen Z dan netizen medsos: Mereka suka konten yang jujur, “gak sok keren”, dan bisa relate.
-
Murah, tapi berpotensi viral: Tidak butuh artis mahal, cukup konten yang “ajaib”.
-
Meningkatkan brand awareness: Meski dinilai “jelek”, brand jadi terkenal.
✅ Risiko Cringe Marketing
-
Bisa merusak citra brand, kalau tidak disiapkan dengan cerdas.
-
Overused atau dipaksakan, bisa bikin orang ilfeel.
-
Tidak semua produk cocok dengan pendekatan ini — tidak disarankan untuk brand premium.
✅ Kesimpulan
Cringe Marketing adalah strategi promosi yang sengaja dibuat norak, lebay, atau memalukan agar viral, dikenang, dan diperbincangkan. Walaupun tampak “malu-maluin”, hasilnya sering kali justru “nendang” — alias berhasil mencuri perhatian.
Dipakai dengan tepat, strategi ini bisa sangat efektif untuk bisnis kecil, UMKM, atau brand yang ingin menjangkau audiens muda di media sosial.
Executive Deep-Dive
Scaling Beyond Traffic to Revenue
Most enterprises fail because they chase clicks instead of trust. While building your global presence, ensure your EEAT 3.0 signals are synchronized across all regions.
Recommended for you:
→ The Shift from Traffic to Trust: A New KPI for Enterprise SEOLast Updated on 2 weeks ago by dudung
Exclusive Early Access: Q1 2026
The Global SEO Blueprint for C-Suite
We are finalizing an exclusive strategic framework for global enterprise scaling. Join the elite waitlist for early-bird pricing.
Secure Your Priority Spot