Belakangan, beredar luas narasi yang mengaitkan NASA dengan ramalan “kiamat internet” pada tahun 2025. Klaim tersebut sering disertai gambar dramatis gedung kontrol dan narasi bahwa “NASA memprediksi internet mati berbulan-bulan karena badai matahari.” Di balik sensasi tersebut muncul sebuah pertanyaan krusial: Apakah ini hoaks atau fakta?
Asal Mula Narasi “Kiamat Internet 2025”
Narasi ini tampaknya berakar pada studi tahun 2021 berjudul “Solar Superstorms: Planning for an Internet Apocalypse”, yang disusun oleh akademisi Universitas California, Sangeetha Abdu Jyothi. Penelitian itu menyoroti kerentanan kabel internet bawah laut apabila terjadi badai matahari besar . Namun, penting dicatat bahwa:
-
Penulis hanya menyebut kemungkinan risiko, bukan prediksi pasti.
-
Istilah “internet apocalypse” lebih bersifat retoris untuk memberi peringatan, bukan klaim dari NASA .
Klarifikasi dari NASA dan Lembaga Cek Fakta
Beberapa lembaga resmi di Indonesia serta media global telah mengonfirmasi bahwa klaim tersebut hoaks:
-
Kominfo DIY, Kominfo Palangkaraya, CSIRT Buleleng, dan PPID Diskominfo Jateng semuanya menegaskan bahwa tidak ada pernyataan resmi NASA yang memprediksi kiamat Internet pada 2025 .
-
Tempo/CekFakta menambahkan bahwa laporannya hanya menyebut AI NASA untuk mendeteksi cuaca luar angkasa, bukan meramal kehancuran internet .
-
Snopes, media fact-checking asal AS, menyatakan klaim NASA mengeluarkan peringatan “internet apocalypse” adalah salah .
-
PolitiFact menegaskan bahwa NASA sama sekali tidak pernah menggunakan istilah tersebut.
-
LogicallyFacts–yang melacak disinformasi global–menyatakan klaim itu false .
Jadi, tidak ada pernyataan resmi dari NASA soal “internet apocalypse” mendatang.
Apa yang Sebenarnya Dilakukan NASA?
Fakta yang sebenarnya adalah:
-
NASA, bersama lembaga seperti NOAA, telah mengembangkan sistem pemodelan berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk memprediksi badai matahari (space weather) dan memberi peringatan sekitar 30 menit sebelum dampaknya terjadi .
-
Model ini disebut DAGGER (Deep Learning Geomagnetic Perturbation) dan membantu melindungi jaringan listrik, satelit, dan infrastruktur penting .
-
Badai matahari besar pernah terjadi pernah, misalnya Carrington Event 1859 dan badai Quebec 1989—keduanya memicu dampak nyata seperti pemadaman telekomunikasi .
-
Meski demikian, insiden semacam itu terjadi sangat jarang—sekali per abad atau lebih—dan belum pernah menyebabkan “kiamat internet” global .
Risiko Sebenarnya untuk Internet
Studi tahun 2021 hanya menyatakan potensi gangguan pada kabel bawah laut akibat badai geomagnetik kuat . Namun realitasnya:
-
Kegagalan kabel transoceanik akan berdampak pada kecepatan dan stabilitas akses, bukan pemutusan total permanen.
-
Banyak negara telah membangun jaringan cadangan (redundansi) untuk menjaga konektivitas.
-
Infrastruktur seperti satelit dan pusat data terus ditingkatkan proteksinya.
Dengan demikian, sementara badai besar dapat menyebabkan gangguan lokal/sektoral, tidak akan menghancurkan internet di seluruh dunia selama berbulan‑bulan.
Respons Komunitas Ilmiah Internasional
Media seperti Space.com, Northrop Grumman, dan politikaifact sudah menjelaskan bahwa klaim “internet apocalypse” adalah overhyped . Misalnya:
-
Space.com: “Non‑existent NASA warnings about a months‑long global internet shutdown triggered by a major solar storm in 2025…”
-
Northrop Grumman: Menegaskan bahwa meskipun matahari memasuki puncak aktivitas, kematian internet secara global karena badai sangat tidak mungkin
-
Hindustan Times: Menjelaskan Carrington Event dan potensi hipotetis, tapi memperingatkan bahwa kemungkinan untuk badai “killer” rendah